Erfand Rakhashiwy adalah seorang pemuda kelahiran 2 Februari 1990 yang saat ini dikenal sebagai pembicara, pebisnis, dan motivator muda yang inspiratif. Namun, di balik kesuksesannya saat ini, tersimpan kisah perjuangan yang sangat mendalam.
Lahir dari keluarga petani dengan keterbatasan ekonomi yang signifikan—bahkan kedua orang tuanya tidak bisa baca tulis—Erfand telah mengenal kerasnya hidup sejak usia dini. Kondisi ini tidak membuatnya menyerah, melainkan membentuk mental baja yang membawanya hingga ke titik sekarang.
Dilahirkan dalam keluarga petani sederhana, Erfand tumbuh di lingkungan di mana kerja keras adalah satu-satunya mata uang untuk bertahan hidup. Kondisi keluarga yang sangat terbatas—di mana kedua orang tuanya bahkan tidak memiliki kesempatan untuk belajar baca tulis—memberikan perspektif mendalam bagi Erfand tentang pentingnya pendidikan dan perjuangan.
Sejak usia Sekolah Dasar, Erfand kecil sudah harus memikul beban yang jauh melampaui usianya. Ia mendedikasikan waktu sebelum dan sesudah jam pelajaran untuk membantu ibunya mengelola kantin sekolah. Di saat anak-anak seusianya masih asyik bermain, Erfand sudah sibuk melayani pembeli dan menghitung uang receh hasil dagangan.
Pengalaman di kantin sekolah ini menjadi "laboratorium bisnis" pertamanya. Di sana, ia tidak hanya belajar tentang transaksi ekonomi, tetapi juga belajar tentang empati, ketabahan, dan bagaimana cara menjaga martabat keluarga di tengah kesulitan. Setiap tetes keringat di kantin itu menjadi fondasi mental baja yang ia miliki hari ini.
Kemandirian Finansial
Tanggung Jawab Besar
Integritas Dini
Mental Pekerja Keras
Memasuki jenjang MTS, tantangan hidup justru semakin meningkat. Erfand harus menempuh perjalanan sejauh 6 KM pergi-pulang setiap hari dengan berjalan kaki di bawah terik matahari. Tidak sekadar berjalan, ia juga memikul keranjang berisi gorengan dan nasi bungkus buatan ibunya untuk dijajakan kepada teman-teman dan gurunya di sekolah.
Ujian terberat datang saat ia ingin melanjutkan ke jenjang SMA. Ketika biaya pendaftaran sebesar Rp 700.000 menjadi penghalang besar bagi pendidikannya, Erfand harus mengambil keputusan pahit: merelakan kambing peliharaan dan sepeda kesayangannya untuk dijual demi menutupi biaya sekolah.
Meskipun harus berhutang untuk menutupi sisa biaya, semangatnya tidak pernah padam. Di SMAN 1 GAPURA, ia tidak hanya berjuang secara akademis tetapi juga membuktikan kualitas kepemimpinannya dengan terpilih sebagai Ketua OSIS, sebuah pencapaian yang menjadi fondasi awal kemampuan komunikasinya di masa depan.
Setelah sempat kuliah jurusan BK di STKIP PGRI Sumenep, Erfand terpaksa berhenti di semester 3 karena faktor finansial. Ia merantau ke Bali dengan harapan merubah nasib, namun realita memaksanya menjadi kuli bangunan selama satu tahun penuh demi bertahan hidup.
1 Thn
Kuli Bangunan
Bali
Kota Rantau
BK
Jurusan Kuliah
100%
Survival Mode
Hijrah ke Sidoarjo membukakan pintu karir di Multimedia Metropolitan. Di bulan pertama, ia mencatatkan diri sebagai marketing paket bahasa Inggris nomor 2 terbanyak. Prestasi ini membawanya menjadi Kordinator Marketing di Malang hingga ekspansi pesat ke kota Blitar.
Kegigihannya membina tim secara profesional membuat omset perusahaan melonjak tajam, membuktikan bahwa kerja keras yang dipadu dengan strategi yang tepat akan membuahkan hasil luar biasa.
Penulis buku:
Connecting THE DOT & Becoming Sales Champion
Sebuah brosur Public Speaking di Malang menjadi titik balik karirnya di dunia training. Setelah 6 bulan mendalami ilmu pembicara publik, Erfand bertransformasi dari seorang EO menjadi Motivator Nasional. Dengan memadukan berbagai pengalaman hidupnya, ia kini memiliki formula training unik yang menginspirasi ribuan peserta di seluruh negeri.
"Kini, perjuangan dari kantin sekolah hingga kuli bangunan telah bertransformasi menjadi kekuatan untuk menginspirasi negeri."
Erfand Rakhashiwy